Aku mengenalnya sudah
sekitar 11 tahun yang lalu. Awal aku kenal dengan dia waktu masih sama-sama
menginjak TK, kebetulan kita bersekolah diTK yang sama dan kebetulan sekali
rumah kita berdekatan. Lulus dari TK kita juga bersekolah diSD yang sama tetapi
kita tak sedekat sewaktu TK. Lulus dari SD kita juga bersekolah di SMP yang
sama, dan disaat kelas 3 SMP kita mulai dekat. Kita mulai berteman bahkan
sahabatan, mulai bercanda bareng, curhat bareng dan lain-lain. Lulus dari SMP
kita sekolah di SMK yang berbeda, aku mengambil jurusan akuntansi dan dia mengambil
jurusan otomotif.
Kita mulai dekat dekat
dan dekat. Pada akhirnya setelah aku putus dengan pacar laluku, dia pun segera
memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku gak langsung menerimanya begitu saja, aku
gak mau jalinan pertemanan kita yang lama ini hancur tiba-tiba karna kita
pacaran lalu nanti putus, tetapi dia meyakinkanku untuk tidak khawatir dan
meyakinkanku bahwa itu tidak akan terjadi. Akhirnya aku menerimanya ya memang
aku menyukainya sejak dulu dan aku gak akan nyia-nyiakan hubungan ini. Akhirnya
kita resmi pacaran.
Aku bahagia dengan
hubungan ini diapun mungkin begitu. Kita sering melewatkan waktu bersama-sama.
Kita juga saling mengenal orangtua satu sama lain. Aku mengenal baik ibunya dan
aku juga kenal sebagian keluarga dari
ibunya. Tapi aku tidak mengenal ayahnya, aku hanya tahu muka ayahnya saja.
Memang sudah lama orangtuanya berpisah, dan dia tinggal bersama ayah dan kedua
kaka laki-lakinya. Ibunya telah menikah lagi, aku juga dekat dengan ayah
tirinya itu. Dia dekat dengan kedua orangtuaku dan adik perempuanku.
Hubungan ini sudah
diketahui oleh sebagian dari keluarganya termasuk ibu, nenek, pakde (sebutan
untuk ayah tirinya), kaka yang pertamanya dan sebagian dari sepupu dan
tante-tantenya. Akan tetapi keluargaku tidak tau kalau aku menjalin hubungan
dengan dia, karna memang aku belum diperbolehkan untuk pacaran, mereka hanya
tau kalau dia adalah teman dekatku. Keluargaku senang dengan dia karna menurut
keluargaku dia adalah anak yang baik.
*__________________________________*
Hubungan ini tidak
selalu berjalan dengan baik ada saja alasan untuk kita bertengkar meski
betengkar karna masalah sepele, tetapi kita selalu bisa untuk menyelesaikannya
dengan baik.
Bahagia, itu yang
dapat aku gambarkan tentang hubungan ini. Setiap kita bertemu ada aja kelakuan
dia yang membuatku tertawa. Suprize-suprize yang dia berikan, lelucon yang dia
buat itu bisa membuat hatiku bahagia. Aku nyaman dengannya, dengan genggaman
tangannya dengan pelukannya, aku nyaman berada disampinggnya.
Aku gak pernah ngerasa
sebahagia ini dengan seseorang. Aku gak pernah ngerasa senyaman ini dengan
seseorang. Senyuman yang selalu terpancar saat sedang berada disampingnya.
Hanya dialah yang selama ini membuatku sebahagia ini.
Aku gak pernah membayangkan
akan sejauh ini dengannya. Mungkin tuhan memang berkata lain, mungkin tuhan
memang menyatukan kami untuk bersama.
Dia selalu bilang
kalau dia sayang denganku, dia selalu bilang kalau dia cinta denganku, dia
selalu bilang kalau dia bahagia denganku, dia selalu bilang tidak akan pernah
melepasku sampai kapanpun, dia selalu bilang tidak akan meninggalkanku sampai
kapanpun. Aku sangat bahagia mendengar kata-kata yang terucap dari mulutnya
itu.
Kita selalu jalan
berdua. Setiap dia mau kemana, dia selalu memintaku untuk menemaninya meski itu
hanya untuk kerumah temannya yang berada disebrang atau untuk membeli peralatan
sekolah di tukang potokopi yang jaraknya tidak jauh dar rumahnya. Dia selalu
meminta untuk mengantarkanku kemana saja dan menjeputku dimana saja meski aku
selalu menolak permintaannya tapi dia tetap memaksaku untuk menyetujuinya.
Aku selalu senang
dengan semua perhatian yang dia kasih, dan dia selalu menjagaku dimana saja dan
kapan saja. Dia gak pernah lelah untuk menemaniku saat aku kesepian. Dia tau
bagaimana membuatku nyaman dan bahagia dengannya. Dia selalu ngasih waktu luang
untuk berlibur denganku saat liburan meski dia sebenarnya sedang PKL. Dia gak
pernah berkata “tidak” kalau aku meminta untuk mengantarkanku meski itu saat
pagi-pagi buta. Diapun tidak pernah berkata “tidak” kalau aku meminta untuk
menjemputku meski itu malam hari. Diapun tidak penah berkata “tidak” saat aku
meminta untuk menemaniku keluar kota meski dia sebenarnya sedang lelah.
Banyak teman-temanku
yang bilang ngiri akan hubungan kita. Tapi sebenarnya mereka hanya melihat dari
sisi luarnya saja tapi mereka tidak tau yang sebenarnya.
*________________________________________*
Setelah sekian lama
kita menjalin hubungan ini. Aku gak nyanga kalau dia akhirnya mengatakan kata
“PUTUS”. Aku sangat sakit saat membaca sms itu. Kita memang sedang bertengkar,
tapi aku gak pernah membayangkan kalau pertengkaran ini berakhir dengan kata
putus. Dia beralasan kalau dia sudah gak sanggup sabar lagi karna tingkah aku.
Sebenarnya bukan dia yang gak sanggup sabar lagi, tapi aku juga selalu sabar
karna tingkah dia, aku selalu bisa nahan emosi aku, aku ngelakuin itu karna aku
sayang dengan dia. Tapi ternyata dia yang menyudahi semuanya dengan segampang
itu.
Saat aku membaca
pesannya, jujur hati ini sakit banget. Saat itu sekitar pukul setengah 6 pagi,
dia sms aku dan meminta untuk menyudahi semua ini. Aku yang sedang prepare buat
berangkat sekolah, menerima sms itu, aku langsung duduk dan terpaku akan sms
itu, tanpa sadar tes tes tes air mataku pun terjatuh. Aku gak tau harus bales
apa sms itu, “yaudah kalau itu mau kamu” cuma itu yang dapat aku ketik dan
tangankupun lemas mengetik sms itu.
Dia juga sempat bilang
“kalau kita jodoh, kita akan kembali lagi kok”, aku pun gak kuat untuk mengetik
balasan akan sms itu, tangan-tangan ku terasa lemas dan seperti tak berfungsi
seperti biasanya dan cuma kata “iya” yang dapat aku ketik. Dia pun memanggil
dengan sebutan “ay” untuk terakhir kalinya. Berat rasanya untuk menerima itu
semua.
Sebenarnya aku gak
ingin masuk sekolah saat itu, aku ngerasa kakiku sangat lemas dan air mataku
tak dapat berhenti menetes. Akhirnya aku
mencoba kuat buat ngelawan semua ini. Akupun tetap sekolah meski sebenarnya aku
sudah gak mood buat berangat.
Disepanjang perjalanan
aku cuma berdoa biar gak ketemu dia dijalan, langkah demi langkah terasa berat,
perjalanan menuju pangkalan bispun terasa jauh tidak seperti biasanya.
Sesampainya dipangkalan aku hampir saja salah naik bis, entah apa yang ada
dipikiranku aku sampai aku begini. Dibispun aku hanya bisa bengong, tatapanku
pun kosong. Hanya rasa perih yang kurasa, hanya kekecewaan yang kudapatkan.
Sesampai dikelaspun aku hanya bisa diam, rasanya aku pengen cepat-cepat pulang
dan nangis sepuasku.
Waktu begitu lama dan
akhirnya bek pulangpun tiba. Aku bergegas pulang tanpa memikirkan teman-temanku
yang sedari tadi heran dengan tingkah anehku hari ini.
Sesampai dirumah, aku
segera masuk kamar dan menagis sepuasku sambil menyetel lagu-lagu patah hati.
Yang ada dipikiranku saat ini adalah “KENAPA DIA KAYA GINI ?” “KENAPA DIA
SETEGA INI DENGANKU?” “MANA JANJI DIA KEMARIN ?” dan ribuan pertanyaan yang
ingin rasanya ku sampaikan dengannya.