Setelah putus dengan
pacarku yang lalu sebut saja namanya “Radit”. Aku belum bisa move on darinya.
Aku selalu saja berharap untuk kembali padanya. Banyak kenangan yang tak dapat
dilupakan begitu saja. Kenangan yang kalau dikenangan bisa membuat tersenyum
sendiri tetapi bisa membuat air mata menetes.
Radit sepertinya sama sepertiku belum dapat
move on. Aku dan dia masih sering smsan,masih sering makai kata sayang. Tapi
status kita masih MANTAN belum ada kata baikan yang terucap dari dia ataupun
aku. Tapi aku selalu berharap dia memintaku untuk kembali lagi dengan dia.
Aku selalu nunggu dia
mengucapkan kata-kata itu. Yang ada dipikiranku dia akan mengucapkan kata-kata
itu pada tanggal-tanggal bermakna bagi kita. Seperti tanggal kita jadian atau
tanggal kita putus. Aku selalu menunggu tanggal-tanggal itu, tapi sampai
tanggal-tanggal itu muncul diapun tidak memintaku untuk kembali.
Sering aku menyindir-nyindir
dia lewat status FB atau twitter bahkan sampai statphone. Tapi tetep saja dia
tidak peka-peka !!!
Dia selalu sms dengan
kata-kata sweet. Dia juga kadang-kadang sms kayak mencari perhatianku, aku yang
gak tega untuk cuekin dia pun akhirnya aku ngeladenin dia dan perhatiin dia.
Sempat suatu saat dia
sms “Pengen balikan lagi sama kamu, tapi kamu belum
berubah” baca sms itu aku senyum-senyum
sendiri, akupun membalasnya “Emang aku power renjers apa yang
bisa berubah” , diapun membalas “Iya aku tau yangg” baca balasan itu hatiku ser-seran senyum senyum
sendiri, akupun langsung membalasnya “Kalo udah tau kenapa pengen aku
berubah ?” diapun membalas “Karna aku masih sayang dan cinta sama kamu, perasaan ini belum pernah
berubah sedikitpun” entah mengapa saat aku membaca
sms itu, seketika hatiku pun degdegan gak karuan.
Harapanku pun
sepertinya tidak akan bertepuk sebelah tangan, diapun masih sayang sama aku.
Akan tetapi kenapa dia belum juga memintaku untuk balik dengannya ?. Menunggu
cuma itu yang dapat aku lakuin, menunggu memang bosan tapi untuk menunggumu aku
gak akan pernah bosan dan akan selalu setia berdiri disini sampai saatnya kau
pun tiba.
Beberapa hari kemudian
aku melihat dia mention-mentionan dengan mantannya dulu, aku curiga aku takut
kalau dia akan balikan dengan mantannya itu. Akupun selalu ikutin
mention-mentionannya. Aku juga selalu ngestalk TL dia dan mantannya itu. Tapi
aku lega ternyata mantannya itu sudah punya pacar dan mereka hanya adik
kakakan.
Aku dan dia agak mulai
jauh, entah apa yang membuat kita jauh. Aku ngerasa sangat kehilangan dia.
Beberapa hari kemudian dia berganti status diFB “Berpacaran” dan itu langsung
muncul diberandaku. Sakit banget saat liat itu, rasanya selama ini harapan yang
dia kasih ke aku cuma harapan palsu saja. Aku pun merasa bodoh bisa saja diberi
harapan palsu dengannya.
Tapi aku tetap belum
bisa nerima kalau dia sudah punya pacar lagi. Sakit hati ini saat mengetahui
semuanya. Entah apa maksud dia begitu denganku, apa dia cuma mau mainin
perasaanku saja ? atau apalah itu.
*________________________*
Banyak cowok yang
datang mendekatiku tapi tetep saja aku gak bisa lupa sama dia bahkan gak ada
yang mampu menggantikannya di hatiku.
Ada salah satu cowok
ya aku bilang okelahya, namanya “Dika” dia ini temen SMP aku. Entah kenapa dia dateng kekehidupan aku, padahal
dulu waktu SMP kita gak pernah deket sebatas tahu nama dan muka doang.
Dia mention aku “Sar,
cek DM dong” langsung saja aku cek DM eh ternyata dia minta nomer telpon aku,
ya aku kasih saja nomer telpon aku. Setelah itu dia sms aku, dan kita sering
smsan bahkan setiap hari gak ada absennya.
Kita sering jalan
bareng, entah ke mall atau sekedar sharing masalah sekolah masing-masing. Dia
selalu kasih aku perhatian lebih, begitu juga aku. Jujur aku nyaman dengan dia,
tapi tetap saja aku tak dapat melupakan Radit. Dika selalu saja bilang sama aku
“Masa lalu jangan selalu dikenang, buat saja masa
lalumu itu sebagai pelajaran dikehidupan kamu dimasa depan”. Aku sempat kaget saat Dika
ngomong gitu sama aku, apa dia tau kalau aku belum bisa move on dari Radit ?.
Dika selalu buat aku
tertawa disaat aku sedih, dia juga selalu ada saat aku butuh. Dia juga selalu
ngajarin aku pelajaran yang aku gak ngerti, aku dan dia sama-sama ngambil
jurusan akuntansi. Aneh memang, cowok jaman sekarang kan jarang banget berminat
masuk SMEA. Dia juga terkenal anak yang pinter, aku tahu saat SMP dia dapet
peringkat 2 dan aku peringkat 3 berarti dia lebih pinter dari aku dong ?.
Udah 2 bulan aku dekat
dengan dika tapi tetep saja aku belum bisa menggantikan Radit dengan Dika di
hati ini. Padahal aku ngerasa dari sekian cowok yang mendekat, Dika lah yang
dapat membuat hari-hariku berwarna lagi setelah putus dengan Radit.
Aku masih aja
berbayang-bayang kenangan bersama Radit saat jalan dengan Dika. Sering kali aku
melewati jalanan yang sering aku lalui bersama Radit dan aku juga sering dateng
ketempat yang sering aku datengin bersama Radit saat kita ngedate tapi sekarang
aku bersama Dika bukan Radit. Entah kenapa Dika selalu mengajakku untuk
ketempat ini, apa dia tau kalau ini tempat aku dengan Radit sering berdua ? apa
Dika ingin berusaha untuk membuatku lupa dengan kenangan bersama Radit ? kamu
salah Dik, kamu gak segampang itu membuat aku lupa dengan Radit.
Sampai saat ini aku
dan dika hanya sebagai teman dekat saja, belum ada status diantara kita. Dia
selalu memberi tanda-tanda kalau dia suka denganku tapi aku selalu saja cuek
dengan itu, karna aku gak ada rasa dengan dia.
Suatu hari Dika bicara
denganku dengan muka serius dan menggenggam tanganku di bibir pantai “Sar, jujur aku suka sama kamu sejak SMP. Aku gak bisa menghilangkan
rasa ini sampa saat ini. Meski aku tau kamu masih ada rasa sama Radit dan kamu
belum bisa lupa dengan Radit aku tetap sayang sama kamu, sayang ini semakin
bertambah saat kita mulai dekat seperti sekarang ini. Sar, maukah kau jadi
kekasihku ?” jujur aku kaget saat dengar
kata-kata Dika seperti itu, aku belum siap untuk itu, aku cuma bisa berkata “dik, kamu baik sangat baik, aku nyaman didekat kamu. Tapi maaf aku gak
bisa lebih sama kamu, aku nyaman sama kamu cuma sebagai teman. Maafin aku
selama ini udah ngasih haapan lebih sama kamu” keliatan dari muka Dika kalau dia kecewa dengan kata-kataku tadi. Dia
cuma tersenyum dan melepas genggamannya dari tanganku dan menatap jauh kelaut.
Aku ngerasa bersalah
dengan Dika, tapi mau diapakan lagi aku gak bisa ngebohongin hati ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar