Cinta dalam diam ?
menyakitkan memang. Tapi, banyak orang yang melakukan itu, begitupun aku. Cinta
dalam diam, ya cintanya secara diam-diam tanpa yang kita cinta itu tau. Mau
sampai kapan ? pertanyaan yang kadang terungkap. Sampai yang menjalankan cinta
dalam diam itu capek dan nekat untuk menyatakannya.
Aku bertemu dengan
sesosok laki-laki yang menurutku cukup ganteng dan menarik perhatianku. Aku
bertemu dengannya saat aku sedang menunggu bus di halte. Dia duduk tepat
disamping kananku, aroma tubuhnya membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
Aneh memang. Dia memakai seragam sama seperti aku “putih abu-abu”.
Ada rasa semangat
untuk bangun pagi dan berangkat lebih pagi dari biasanya. Aku pun sering
menunggu bus di halte tersebut dengan sabarnya menanti bus yang ingin ku naiki.
Sejujurnya aku orangnya gak sabaran loh. Aku gak betah untuk duduk lama-lama
dihalte. Terkadang aku berjalan sampai menemukan bus, bahkan terkadang aku
samperin ke tempat pangkalannya. Tapi, semenjak melihat sesosok lelaki itu aku
jadi betah untuk duduk berdiam diri lama-lama demi bertemu pujaan hatiku itu.
Usahaku gak sia-sia.
Aku sering bertemu dengannya dihalte tersebut dan sering kali kita duduk
bersebelahan. Tapi, terkadang aku juga gak ketemu dengannya. Karena aku takut
telat masuk sekolah jadi terpaksa aku naik duluan sebelum ketemu dia. Nyesek
sih. Tapi yasudahlah ya.
***
.Ingin rasanya tau
nama dia itu siapa ? sekolah dimana ? rumahnya dimana ? nama fbnya apa ? nama twitternya
apa ? bahkan no telponya berapa ? Tapi, aku takut untuk mengungkapkan itu semua
kepadanya.
Ingin rasanya lebih
dekat. Menjadi teman lah gitu?. Tapi, melihat wajahnya saja cukup untukku.
Aku menceritakan ini
kepada sahabatku. Dia pun penasaran sama orang itu. Aku aja kalau ketemu cuma
pagi itu juga kalau beruntung, gimana mau nunjukin ke dia gimana orang itu,
secara aku dan sahabat ku aja rumahnya jauh.
***
Suatu hari, aku dan
temanku jaan di suatu tempat. Kita memang sering jalan ketempat itu kalau lagi
bete atau hanya sekedar untuk refreshing.
Kita lagi jalan dan
ketawa-ketiwi mendengarkan cerita sahabatku itu. Tiba-tiba, ada yang memanggil
sahabatku. Kita nengok secara bersamaan. Dan ternyata yang memangil itu adalah
sesosok lelaki yang menjadi pujaan hatiku saat ini.
Nama sesosok lelaki
yang menjadi pujaan hatiku itu adalah “Rafa” . Aku dikenalin sama sahabatku
itu. Rafa itu ternyata temen SMPnya sahabatku dan ternyata juga Rafa adalah
MANTANnya. Cukup mengagetkan memang. Mereka putus karena beda agama, sahabatku
nonmuslim dan Rafa muslim.
Kita jalan bertiga.
Mereka masih cukup dekat dan mereka bercanda bareng dan aku kayak obat nyamuk
buat mereka. Mereka udah lama gak ketemu dan akhirnya dipertemukan kembali.
Mereka bergandengan tangan didepanku. Kalian tau gimana rasanya ? SAKIT ! SA to
the KIT !!!!
Kita pun berpisah. Aku
dan sahabatku pulang ke rumah sahabatku. Disana dia cerita semuanya. Ternyata
selama ini yang diceritain dia kalau dia gak bisa move on dari mantannya itu
dan masih sayang sama mantannya itu adalah RAFA.
Aku gak ngasih tau
kalau selama ini sesosok lelaki yang menjadi pujaan hatiku selama ini adalah
Rafa. Aku gak kuat liat gimana expresi sahabatku itu. Pasti dia kaget, sedih,
galau, gundah, bimbang, dan lain lain.
Aku gak tau lagi harus
gimana. Mau dibawa kemana perasaan ini yang terus mengalir kayak air di sungai.
Sahabatku nanya sama
aku, gimana perkembangan sama sesosok lelaki itu ?. Aku bingung harus menjawab
apa, akhirnya aku bilang ya gitu biasa-biasa aja dan masih secara diam-diam.
Didalam hatiku aku menjawab, SESOSOK LELAKI ITU ADALAH RAFA, RAFAAAAAAAAAAA.
Aku izin pulang. Yang
tadinya niat buat nginem gak jadi karna ini. Aku gak kuat nahan air mata yang
rasanya ingi cepat-cepat keluar.
***
Sampai dirumah akupun
nangis dengan sederas-derasnya.
Tuhan… kenapa sesosok
orang yang ku kagumi itu adalah Rafa ? dan kenapa Rafa itu adalah mantannya
sahabatku ? dan kenapa aku juga dipertemukan sama Rafa ? untuk apa ?
Aku sadar cinta itu
tumbuh dengan sendirinya tanpa ada yang menyuruh. Cinta juga datang kepada
suapa aja tanpa ada yang meinginkannya.
***
Aku kesiangan bangun
karna semalaman aku sibuk menangisinya. Seperti biasa aku menunggu bis di halte
kesayanganku itu. Aku kaget pas ngeliat kalau Rafa sudah lebih dahulu disana.
Akupun mengurungkan diri untuk menunggu bis di halte itu. Karena udah hampir
waktunya bel masuk sekolah bredering, akhirnya aku naik ojek untuk berangkat
kesekolah. Aku rela merogok kocek untuk tidak ketemu Rafa lagi. Aku takut kalau
sampai perasaanku terus bertabah sama dia.
Sesampai disekolah.
Sahabatku nanya sama aku kenapa mataku itu sembab. Aku cuma bilang kalau aku
lagi ada masalah internal aja sama keluargaku. Bohong!.
Sahabatku penasaran
sama cowok yang kukagumi itu. Akhirnya dia nekat bua nginep dirumahku biar
besok bisa berangkat bareng sama aku dan nemuin pangeranku itu. Aku udah usaha
untuk dia mengurungkan niatnya itu, tapi tetep saja dia bersikeras buat nemuin
pengeranku itu.Ya aku cuma pasrah. Dia memang keras kepala, apa aja yang di
apengenin harus terwujud.
***
Aku pun berangat
bareng dengan sahabatku itu. didalam hati aku terus berdoa bia gak ketemu
dengan Rafa. Sesampai disana Rafa gak ada. Huh syukurlah.
“udah yuk berangkat aja, takut telat” ajak ku
“gak ah, sia-sia gue dateng kesini kalo gak ketemu pangeran lo itu” jawabnya
“dia udah berangkat kali, mungkin ada tugasbjadi buru-buru deh” kaya aku
“ah sok tau lo kayak dukun” jawab dia
Aku cuma bisa diem dan
terus berdoa agak Rafa gak dateng. Tiba-tiba ada yang manggil.
“RINNN, TIKKK” kita langsung nengok dan ternyata itu Rafa. Mimik muka ku
langsung berubah.
“Rin, tumben kok nunggu mobil disini. Bukannya rumah kamu jauh dari
sini ?” Tanya Rafa sama sahabatku.
“oh, aku cuma lagi nunggu seseorang aja disini. Lagi ada misi rahasia hehe”
jawab sahabatku.
“udah mau bel nih, lo mau ngikut gue gak ? gue mau berangkat” ajakku
“iya tunggu, daaah Rafaaaaaa” jawab Sahabatku
Dari kejauhan, nampak
Rafa melambaikan tangan kepada sahabatku itu. lambaian tangan itu buat
sahabatku bukan buat aku.
***
Pulang sekolah, aku diajak kermah
sahabatku dulu.
“Tik,
kok muka lo pas kita ketemu Rafa tadi pucet sih ?” Tanya sahabatku.
“ah enggak ah biasa aja, mungkin karna takut telat
kali ya. Maklum hari ini kan gueu piketnya danger haha” aku mencoba tertawa dan
beracting.
“gak usah bohong ! ketauan dari mata lo. Gue udah kenal sama lo dari lama. Gue
udah tau lo itu kayak gimana. Udah cepet cerita sama gue sini.” Kata sahabatku
itu
Karna
aku gak bisa ngumpetin sesuatu dari sahabatku itu, akhirnya aku ceritakan
semuanya.
Sahabatku
itu pun kaget mendengar semua ceritaku. Kalau Rafalah yang selama ini jadi
pangeran yang aku impi-impikan.
“gue
rela kok Rafa buat lo Tik. Lo sama Rafa tuh kalo diliat-liat cocok juga ya.
Kalian satu iman beda sama gue. Gue akan comblangin lo berdua.” Sambil
meluncurkan air mata, Rini mengungkapkan niatnya itu.
“gak
Rin, gue tau lo sama Rafa itu masih saling menyayangi. Keliatan tuh dari mata
lo berdua. Kenapa kalian gak balikan aja ? gue rela kok. Lagian gue sama Rafa
tuh cuma kagum aja kok gak ada lebih.” Jawabku sambil meluncurkan air mata
“lo
serius tik?” jawab Rini
“iya rin” jawab aku sambil
tersenyum.
Aku
tau sahabatku itu kalau ada apa-apa yang bisa membuat pikiranya ancur akan
langsung jatuh sakit. Makanya aku merelakan perasaanku itu demi sahabat
tersayangku ini.
***
Akhirnya
Rini dan Rafa pun kembali mengulang kisah lama yang belum kelar.