Rabu, 17 April 2013

Cintaku Berakhir



            Aku mengenalnya sudah sekitar 11 tahun yang lalu. Awal aku kenal dengan dia waktu masih sama-sama menginjak TK, kebetulan kita bersekolah diTK yang sama dan kebetulan sekali rumah kita berdekatan. Lulus dari TK kita juga bersekolah diSD yang sama tetapi kita tak sedekat sewaktu TK. Lulus dari SD kita juga bersekolah di SMP yang sama, dan disaat kelas 3 SMP kita mulai dekat. Kita mulai berteman bahkan sahabatan, mulai bercanda bareng, curhat bareng dan lain-lain. Lulus dari SMP kita sekolah di SMK yang berbeda, aku mengambil jurusan akuntansi dan dia mengambil jurusan otomotif.
            Kita mulai dekat dekat dan dekat. Pada akhirnya setelah aku putus dengan pacar laluku, dia pun segera memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku gak langsung menerimanya begitu saja, aku gak mau jalinan pertemanan kita yang lama ini hancur tiba-tiba karna kita pacaran lalu nanti putus, tetapi dia meyakinkanku untuk tidak khawatir dan meyakinkanku bahwa itu tidak akan terjadi. Akhirnya aku menerimanya ya memang aku menyukainya sejak dulu dan aku gak akan nyia-nyiakan hubungan ini. Akhirnya kita resmi pacaran.
            Aku bahagia dengan hubungan ini diapun mungkin begitu. Kita sering melewatkan waktu bersama-sama. Kita juga saling mengenal orangtua satu sama lain. Aku mengenal baik ibunya dan aku juga kenal sebagian  keluarga dari ibunya. Tapi aku tidak mengenal ayahnya, aku hanya tahu muka ayahnya saja. Memang sudah lama orangtuanya berpisah, dan dia tinggal bersama ayah dan kedua kaka laki-lakinya. Ibunya telah menikah lagi, aku juga dekat dengan ayah tirinya itu. Dia dekat dengan kedua orangtuaku dan adik perempuanku.
            Hubungan ini sudah diketahui oleh sebagian dari keluarganya termasuk ibu, nenek, pakde (sebutan untuk ayah tirinya), kaka yang pertamanya dan sebagian dari sepupu dan tante-tantenya. Akan tetapi keluargaku tidak tau kalau aku menjalin hubungan dengan dia, karna memang aku belum diperbolehkan untuk pacaran, mereka hanya tau kalau dia adalah teman dekatku. Keluargaku senang dengan dia karna menurut keluargaku dia adalah anak yang baik.
                                        *__________________________________*

            Hubungan ini tidak selalu berjalan dengan baik ada saja alasan untuk kita bertengkar meski betengkar karna masalah sepele, tetapi kita selalu bisa untuk menyelesaikannya dengan baik.
            Bahagia, itu yang dapat aku gambarkan tentang hubungan ini. Setiap kita bertemu ada aja kelakuan dia yang membuatku tertawa. Suprize-suprize yang dia berikan, lelucon yang dia buat itu bisa membuat hatiku bahagia. Aku nyaman dengannya, dengan genggaman tangannya dengan pelukannya, aku nyaman berada disampinggnya.
            Aku gak pernah ngerasa sebahagia ini dengan seseorang. Aku gak pernah ngerasa senyaman ini dengan seseorang. Senyuman yang selalu terpancar saat sedang berada disampingnya. Hanya dialah yang selama ini membuatku sebahagia ini.
            Aku gak pernah membayangkan akan sejauh ini dengannya. Mungkin tuhan memang berkata lain, mungkin tuhan memang menyatukan kami untuk bersama.
            Dia selalu bilang kalau dia sayang denganku, dia selalu bilang kalau dia cinta denganku, dia selalu bilang kalau dia bahagia denganku, dia selalu bilang tidak akan pernah melepasku sampai kapanpun, dia selalu bilang tidak akan meninggalkanku sampai kapanpun. Aku sangat bahagia mendengar kata-kata yang terucap dari mulutnya itu.
            Kita selalu jalan berdua. Setiap dia mau kemana, dia selalu memintaku untuk menemaninya meski itu hanya untuk kerumah temannya yang berada disebrang atau untuk membeli peralatan sekolah di tukang potokopi yang jaraknya tidak jauh dar rumahnya. Dia selalu meminta untuk mengantarkanku kemana saja dan menjeputku dimana saja meski aku selalu menolak permintaannya tapi dia tetap memaksaku untuk menyetujuinya.
            Aku selalu senang dengan semua perhatian yang dia kasih, dan dia selalu menjagaku dimana saja dan kapan saja. Dia gak pernah lelah untuk menemaniku saat aku kesepian. Dia tau bagaimana membuatku nyaman dan bahagia dengannya. Dia selalu ngasih waktu luang untuk berlibur denganku saat liburan meski dia sebenarnya sedang PKL. Dia gak pernah berkata “tidak” kalau aku meminta untuk mengantarkanku meski itu saat pagi-pagi buta. Diapun tidak pernah berkata “tidak” kalau aku meminta untuk menjemputku meski itu malam hari. Diapun tidak penah berkata “tidak” saat aku meminta untuk menemaniku keluar kota meski dia sebenarnya sedang lelah.
            Banyak teman-temanku yang bilang ngiri akan hubungan kita. Tapi sebenarnya mereka hanya melihat dari sisi luarnya saja tapi mereka tidak tau yang sebenarnya.
                                         *________________________________________*

            Setelah sekian lama kita menjalin hubungan ini. Aku gak nyanga kalau dia akhirnya mengatakan kata “PUTUS”. Aku sangat sakit saat membaca sms itu. Kita memang sedang bertengkar, tapi aku gak pernah membayangkan kalau pertengkaran ini berakhir dengan kata putus. Dia beralasan kalau dia sudah gak sanggup sabar lagi karna tingkah aku. Sebenarnya bukan dia yang gak sanggup sabar lagi, tapi aku juga selalu sabar karna tingkah dia, aku selalu bisa nahan emosi aku, aku ngelakuin itu karna aku sayang dengan dia. Tapi ternyata dia yang menyudahi semuanya dengan segampang itu.
            Saat aku membaca pesannya, jujur hati ini sakit banget. Saat itu sekitar pukul setengah 6 pagi, dia sms aku dan meminta untuk menyudahi semua ini. Aku yang sedang prepare buat berangkat sekolah, menerima sms itu, aku langsung duduk dan terpaku akan sms itu, tanpa sadar tes tes tes air mataku pun terjatuh. Aku gak tau harus bales apa sms itu, “yaudah kalau itu mau kamu” cuma itu yang dapat aku ketik dan tangankupun lemas mengetik sms itu.
            Dia juga sempat bilang “kalau kita jodoh, kita akan kembali lagi kok”, aku pun gak kuat untuk mengetik balasan akan sms itu, tangan-tangan ku terasa lemas dan seperti tak berfungsi seperti biasanya dan cuma kata “iya” yang dapat aku ketik. Dia pun memanggil dengan sebutan “ay” untuk terakhir kalinya. Berat rasanya untuk menerima itu semua.
            Sebenarnya aku gak ingin masuk sekolah saat itu, aku ngerasa kakiku sangat lemas dan air mataku tak dapat berhenti menetes.  Akhirnya aku mencoba kuat buat ngelawan semua ini. Akupun tetap sekolah meski sebenarnya aku sudah gak mood buat berangat.
            Disepanjang perjalanan aku cuma berdoa biar gak ketemu dia dijalan, langkah demi langkah terasa berat, perjalanan menuju pangkalan bispun terasa jauh tidak seperti biasanya. Sesampainya dipangkalan aku hampir saja salah naik bis, entah apa yang ada dipikiranku aku sampai aku begini. Dibispun aku hanya bisa bengong, tatapanku pun kosong. Hanya rasa perih yang kurasa, hanya kekecewaan yang kudapatkan. Sesampai dikelaspun aku hanya bisa diam, rasanya aku pengen cepat-cepat pulang dan nangis sepuasku.
            Waktu begitu lama dan akhirnya bek pulangpun tiba. Aku bergegas pulang tanpa memikirkan teman-temanku yang sedari tadi heran dengan tingkah anehku hari ini.
            Sesampai dirumah, aku segera masuk kamar dan menagis sepuasku sambil menyetel lagu-lagu patah hati. Yang ada dipikiranku saat ini adalah “KENAPA DIA KAYA GINI ?” “KENAPA DIA SETEGA INI DENGANKU?” “MANA JANJI DIA KEMARIN ?” dan ribuan pertanyaan yang ingin rasanya ku sampaikan dengannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar