Jumat, 21 Juni 2013

LDR part 1


            “Bintang itu indah ya” kata Suci kepada Rudi via Telpon.
            “iya, seandainya kita dapat menikmati keindahan bintang ini ditempat yang sama.” Rudi menjawab diujung sana.
            Mereka adalah pasangan yang dibedakan oleh jarak yang sering disebut dengan LDR (Long Distance Relationship). Rudi di Palembang dan Suci di Jakarta. Jarak yang cukup jauh dan berbeda pulau.
            Mereka terpisah karna urusan pendidikan. Mereka dulu bersekolah disatu SMA yang sama di daerah Jakarta. Rudi dan Suci sama-sama ikut seleksi masuk Universitas Negeri yang sama. Mereka berdua sama-sama diterima tetapi penempatannya yang berbeda.
            Saat mereka berdua tahu kalau mereka ditempatkan bukan ditempat yang sama bahkan berbeda pulau, mereka sangat sedih. Bahkan Suci sempat meneteskan air mata saat membaca berita tersebut. Tetapi Rudi tetap memberikan pengertian kepada Suci, hingga akhirnya Suci bisa menerima semuanya.
            Mereka melewati waktu yang tersisa bersama-sama. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa sebelum keberangkatan Rudi ke Palembang.
            Akhirnya waktu yang mereka tidak inginkan pun tiba. Suci mengantarkan Reno ke Bandara. Suara pemberitahuan pesawat akan segera terbang membuat air mata Suci mengalir, Reno membisikan sesuatu kepada Suci “Kita memang terpisah jarak, Kita memang tidak bisa bersama-sama lagi. Tapi, hati kita akan selalu dekat. Kita harus percaya pada pasangan kita. Aku akan percaya kamu dan kamu harus percaya sama aku. Aku akan kembali untukmu, tunggu aku. I love you” Rudi pun mencium kening Suci.
            Sudah malam minggu ke12 mereka lewati hanya via telpon. Seperti malam ini yang mereka lewati dengan bercakap-cakap lewat telpon. Mereka selalu menceritaan semua pengalaman tentang seminggu itu. Hanya malam minggu saja mereka bisa puas telpon-telponan kara dihari biasa mereka disibukan dengan kuiah mereka.
            “Kapan kamu akan kesini ?” Tanya Suci.
            “Aku gak tau” jawab Rudi
            Jawaban Rudi membuat Suci sedih. “kamu sayang aku kan ? kalau kamu sayang aku, pulanglah, temui aku sebentar saja. Aku sudah sangat rindu padamu”
            Kata rindu Suci membuat Rudi ingin langsung terbang ke Jakarta dan langsung menemui Suci. Tapi, itu tidakah mingkin. Ia harus menyelesaikan dulu kuliahnya. “Tunggu aku, aku akan menemuimu secepatnya. Akan ku usahakan itu”
***
            Sudah sekitar 6 bulan mereka terpisa oleh jarak, 6 bulan itu lah mereka tidak bertemu. Sungguh tak bisa dibayangkan betapa rindunya mereka.
            Hari-hari yang diewati Suci dan Rudi pun begitu flat, serasa ada yang hilang dari diri mereka.
            Sekarang-sekarang ini Rudi jarang memberikan kabar kepada Suci. Suci pun merasa ada yang berbeda dari pacarnya itu. Entah berapa kali Suci menelfon, SMS, bahkan BBM pun tak dibalas atau direspon. Suci mulai membayangkan yang tidak-tidak.
            Sesekali Suci meminta penjelasan mengapa dia tidak merespon telfon, sms, bahkan bbm yang diayangkan kepadaya. Dia hanya menjawab “aku sedang sibuk”. Sering kali mereka bertengkar karena masalah itu.
            Apa salah aku mempertanyakan keberaaanmu disana ? Apa salah aku mencurigaimu saat kau tidak member kabar sama sekali kepadaku ? Apa salah aku telfonin kamu ? Apa salah aku smsin kamu ? Apa salah aku bbmin kamu ?! Kamu dan aku sudah terpisah oleh jarak, apa kau masih ingin memisahkan lagi dengan komunikasi ? Aku menunggumu disini dan aku akan selalu disini. Itulah yang terlintas dipikiran Suci saat ini.
            Suci pun mempunyai ide untuk menyusul Rudi ke Palembang. Karena besok adalah anniversary mereka yang ke 2 tahun. Mereka memang sudah pacaran sejak SMA.
            Suci pun sudah meminta izin kepada orang tuanya untuk kesana dan diizinkan oleh orang tuanya.
            Suci pun berangkat ke Palembang tanpa sepengetahuan Rudi. Karna Suci ingin memberikan kejutan di anniversary mereka.
            Akhirnya Suci pun tiba di Palembang. Dengan bekal alamat kostan Rudi yang diberitahu oleh Rudi waktu itu, ia pun segera menuju ke alamat tersebut.
            Sesampainya disana. Suci melihat Rudi sedang bermesraan di depan kostan. Sontak Suci langsung kaget meihat semua itu. Sia-sia dia datang jauh-jauh dan hanya mendapatkan sebuah kejutan yang membuat hatinya hancur.
            Rudi sontak melihat kedepan gerbang kostannya karna bunyi tas jatuh milik Suci. Rudi melihat sosok cewek yang diwajahnya ada air mata yang tertumpah. Rudi kaget kalau itu ternyata Suci. Ia tak menyangka kalau Suci akan berani main ke tempat kostannya.
            Sucipun segera pergi dari tempat itu dan dikejar oleh Rudi.
“SUCI !!!!!!!” teriak Rudi
Sucipun menghiraukan panggian itu dan tetap berlari mejauh.
Rudipun dapat menarik tangan Suci.
Disitu Suci merasa tidak nyangka, seperti mimpi dan lain sebagainya.
“maafkan aku” kata rudi
“sudahlah” suci menjawab sambil berusaha melepas tangannya dari genggaman rudi
“aku minta maaf” hanya itu yang dapat rudi katakana.
“simpan saja kata maafmu itu. Aku taka pa kok”
“kamu bohong”
“tuhan memang baik. Dia mengizinkan ku untuk kesini dan menunjukanku sebuah kenyataan. Pahit memang.”
“kenapa kau kesini tidak bilang padaku”
“sejujurnya aku kesini ingin merayakan anniversary kita ke 2 tahun. Mungkin ini adalah tanggal kita bisa bersama dan tanggal kita untuk berpisah. Sudahlah aku lelah aku ingin pulang saja. Tak ada artinya aku disini. Maafkan aku.”
Rudipun membiarkan Suci untuk pergi. Mungkin memang itu yag terbaik untuk mereka.
            Rudipun kembali ke kostannya dan bertemu dengan kekasih barunya. Entah mengapa Rudi memutuskan hubungannya dengan kekasihnya saat itu juga.
            Suci tak habis pikir megapa rudi bisa tega seperti itu ? mana janji yang dia buat dulu, janji yang akan selalu setia,  janji yang akan pulang menemuiku. Katanya cinta mati pada ku ? katanya akan selalu cinta. Tapi kok malah menduakanku dengan cewek lain ?
            Disana uci tidak tau harus kemana. Tak ada sanak saudara yang tinggal disana. Dia hanya kenal Rudi yang kini sudah mengecewakannya. Entah mengapa kakinya menuju disuatu tempat yaitu jurang. Entah apa yang dipikirkan suci sampai-sampai dia ke tempat itu. Suci ingin menjatuhkan tubunya kejurang itu. Tapi dia tersadar aan lamunannya itu. Dia sadar kalau banyak orang yang sangat menyayaginya.
            Sucipun memutuskan untuk pulang kejakarta kembali. Diperjalanan menuju Jakarta, pesawat yang ia tumpangi ada masalah. Dannnnn pesawatnya pun jatuh dan tidak ada 1 orang pun hidup termasuk suci didalamya.
***
            Sedari tadi perasaan Rudi gak enak. Dia terus saja memikirkan Suci. Dia takut Suci kenapa-kenapa dijalan. Disini Suci hanya mengenalnya saja. Dia takut kalau Suci sampai nekat bunuh diri karna kejadian tadi.
            Tiba-tiba HP rudi berbunyi dan membuyarkan lamunannya. Ternyata keluarga Suci yang menghubungi Rudi. Mereka memberikan kabar duka, kala suci telah tiada. Rudi yang mendengar kabar itu. Langsung menuju Jakarta
             Ia sangat menyesal atas kelakuannya itu. Ia terus saja meminta maaf kepada Suci dengan air mata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar